CIRI CIRI SIFAT IKHLAS


1. Suudzon binnafsi wa ‘adamu al-igtiror bil’amali. (berprasangka buruk pada diri & tdk merasa sombong dngn amal kebajikan)
Allah SWT berfirman :
بسم الله الرحمن الرحي
قال الله تعالي : (واالذ ين ماآتواوقلوبهم وجلة أنهم الي ربهم راجعون)- المؤمنون : 60-
Artinya:
60. Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka[1008],

[1008] Maksudnya: Karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, Maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.

Apabila seorang hamba sudah menjalankan kewajiban dengan landasan takut kepada Allah. Takut kalau Allah tidak lagi peduli pada dirinya, takut kalau ia sampai termasuk hamba Allah yang tidak pandai bersyukur. Apabila seorang hamba sadar dan tahu betul kalau segala apa yang ada di dunia ini akan kembali kepada sang empuhnya Allah penguasa alam semesta maka orang itu tergolong sebagai hamba yang ikhlas berbuat karena Allah. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata “seorang pemuda keluar dari neraka setelah seribu tahun, dan mudah-mudahan pemuda itu adalah aku”. Seorang Hasan al-Bashri saja berkata demikian, itu membuktikan kalau beliau takut akan kekal didalam neraka dan takut kalau beliau mendapat cap sebagai manusia yang suulkhotimah, tidak pandai bersyukur dan tidak ikhlas dalam berbuat.

2. Istiwaau al-madhi wa adz-dzammi. (menyeimbangkan antra pujian dan celaan)
Tidak merasa bangga ataupun gembira ketika mendapat pujian, dan tidak pula bersedih takkala mendapat celaan. Sifat ini sudah menjadi kebiasan bagi mereka yang ikhlas dalam beramal. Karena sama-sama kita ketahui kalau pujian itu amat sangat berbahaya dan punya pengaruh negatif bagi siapa yang mendapat pujian, dan Rasulullah juga banyak menerangkan bahaya dari pujian. Sampai suatu ketika Rasulullah pernah bersabda :
“اذا رأيتم المداحين فاحثوا في وجوههم التراب” – رواه مسلم-

Dari hadits diatas, jelas sudah bahwasannya tidak semua pujian itu akan membawa efek positif melainkan bisa berbalik dan tidak menutup kemungkinan menjadikan kita sebagai orang yang dipuji menjadi sombong ataupun ria na’uzubillahi min zalik. Jadi sudah sewajarnya kita selaku hamba Allah yang juga disisi lain sebagai pengikut Rasulullah untuk membuang jauh-jauh niat ataupun cita-cita untuk menjadi orang yang selalu dipuji atau orang yang selalu dibangga-banggakan dalam artian tanda kutip. Umar radhiyallahu ‘anhu ikut angkat bicara mengenai masalah pujian, beliau berkata : “pujian itu laksana pembunuhan, karena pujian seringkali menumbuhkan sifat ujub dan sombong, dan kedua sifat ini adalah penghancur sama halnya dengan pembunuhan, makanya beliau menyamakan pujian dengan pembunuhan karena sama-sama menggancurkan. Pembunuhan adalah kehancuran dari sisi dzohir dan pujian adalah kehancuran dari sisi bathin.

3. Al-harsu ‘alaa ikhfaai at-tho’ah (Selalu berusah untuk menyembunyikan Ketaatan/amal kebajikan)
Sifat ini kebanyakan dimiliki oleh para sahabat dan orang-orang sufi terdahulu. Kisah mereka banyak kita temukan dalam buku-buku yang menceritakan tentang bagimana para sahabat dan orang-orang sufi berusaha keras agar amal kebaikan mereka tidak diketahui orang lain. Dalam sebuah riwayat disebutkan, seorang ulama yang hidup disebuah perkampungan dan ia sangat dikenal dengan ketaatannya dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba, tentunya tidak hanya amalan fardu yang ia tekuni melainkan amalan-amalan sunnah lainnya juga ia kerjakan. Lalu timbul kecemasan dalam dirinya, dan kecemasan serta kekhawatiran itu kian lama kian menjadi, kecemasan itu timbul dari kataatan yang menjadikan ia amat disegani dan sangat diagungkan oleh masyarakat disekitarnya. Karena itulah ia khawatir kalau perkara ini berlanjut akan menjadikan ia ujub ataupun sombong. Hingga suatu hari ia nekat mencuri, karena dengan mencuri masyarakat akan mengecap ia sebagai pendosa. Dan dengan demikian tentunya ia tidak lagi diagung-agungkan.
Ali bin Husain, siapa yang tidak kenal dengan beliau? Orang miskin sekampung hidup dari makanan yang mereka tidak tahu dari mana asalnya, namun setelah meninggalnya Ali bin Husain mereka kehilangan makanan yang mendatangi mereka diwaktu malam. Dan ketika Ali bin Husain dimandikan mereka manemukan bekas hitam di punggung beliau, lalu mereka bertanya : “tanda apa ini? Lalu sekelompok golongan menjawab : “itu adalah bekas yang ditimbulkan dari karung goni yang beliau pikul ketika malam hari lalu ia bagikan kepada orang-orang fakir yang hidup berdampingan dengan beliau”.

One thought on “CIRI CIRI SIFAT IKHLAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s